Amalia Amanda & Pondok Pesantren
Belajar Tanpa Tapi Berakhir Hingga Ke Tepi
“Kisah Perjalanan Inspirasi Belajar Seorang Santriwati”
Amalia Amanda
(Pemenang Juara 2 Lomba Surat Santri Pada Peringatan Hari Santri Nasional 2022 yang diselenggarakan Oleh Lakpesdam NU Provinsi Jawa Barat)
Langit membiru laksana lautan yang terkena terik sinar matahari. Udara bergemuruh dalam ayunan ranting pada pohon yang hijau nan rindang. Daun – daun terbawa suasana kesejukan pada siang hari. Laksana mereka sedang menari – nari dipesisir pantai yang indah dan cantik. Tepat pada tanggal 28 Juni 2013, hari Jum’at dengan mantap memutuskan untuk belajar di Pondok Pesantren Riyadlul Huda, Desa Ngamprah Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Sebelumnya, memang Bapak meminta tolong Saya untuk melakukan shalat istikharah dan shalat hajat.
Karena, pada waktu itudiberikan dua pilihan, yaitu Pondok Pesantren Mojokerto dan Pondok Pesantren Riyadlul Huda. Hasil daripada shalat istikharah dan shalat hajat ini “diperlihatkan warna hijau dan orange dengan tulisan Pondok Pesantren Riyadlul Huda”. Akhirnya, dengan keputusan yang sudah yakin. Berangkatlah pada hari Jum’at, tidak lupa pamit serta meminta do’a restu pada Guru madrasah (ngaji) didekat rumah, yaitu KH Wahyul Afif Al – Ghafiqi dan Hj.Evi Afifah. Setelah, berangkat dan sampai Pondok Pesantren Riyadlul Huda. Sowan langsung kepada KH Acep Aminuddin sebagai Pimpinan Pondok Pesantren Riyadlul Huda, sekaligus diberikan nasihat “untuk kuat dan mampu berjuang di Pondok Pesantren Riyadlul Huda”.
Mulai dari hari pertama hingga hari ke tujuh menangis dan galau. Karena rindu dengan kedua orang tua di Kota Bandung. Pada saat itu, masih duduk dibangku kelas 1 SMP dan 1 Ibtida’ di Pondok Pesantren. Setiap semester ganjil ataupun semester genap, Pondok Pesantren selalu memberikan apresiasi berupa pemberian hadiah bagi Santri berprestasi. Ketika itu, Saya mendengar beberapa Akang/Teteh Santri/Santriwati banyak sekali yang berprestasi. Sejak saat itu, Saya tanamkan pada diri sendiri “Saya harus seperti itu, Saya pasti mampu berprestasi seperti itu”.
Inspirasi belajar Saya bermula dari situ. Setiap pergantian ajaran baru dan kenaikan kelas selalu ada pengumunan Santri berprestasi. Ternyata, Saya tidak sadar, bahwa Saya termasuk kedalam kategori Santri berprestasi. Saat itu, Saya mendapatkan juara 3 kelas 1 Ibtida’. Namun, dari pada itu tidak membuat Saya berpuas diri. Tepat pada saat kelas II Ibtida’ Saya mendapatkan juara kelas kembali, yaitu juara 1 kelas II Ibtida’. Selama 5 semester di Pondok Pesantren berturut – turut Saya mendapatkan juara 1.
Dari, hasil yang didapat memang tidaklah instan. Selalu membutuhkan proses yang panjang. Hampir setiap hari untuk mengkosongkan perut, tidur sangat sedikit. Bahkan, dikatakan hampir selalu memperbanyak ibadah puasa. Berusaha setiap hari untuk bangun di sepertiga malam disaat teman – teman Santri seperjuangan masih tertidur lelap. Semata – mata hanya ingin membahagiakan kedua orang tua. Prinsip Saya saat itu “Ada hasil prestasi yang harus mampu untuk dibawa ke rumah (pulang)”. Bahkan, ketika kenaikan kelas 1 Tsanawi atau disebut dengan kelas Shorof. Setiap ujian tertulis dan menghafal Kitab Kuning. Saya hanya menyediakan secangkir atau satu gelas air putih.
Walaupun perut sudah terasa lapar dan perih. Tetapi, itulah salah satu cara mudah untuk menghafal Kitab Kuning. Selain, menjadi Santri berprestasi. Allah memberikan karunia kepada Saya yaitu termasuk kedalam kategori Siswa berprestasi di Sekolah pada jenjang SMP. Tepat pada saat Saya duduk dibangku kelas 2 SMP. Saya mendapatkan juara 2 di kelas. Bahkan, ada satu momentum dimana Saya menangis di Sekolah. Karena, tidak mampu menghafal dan menalar Kitab Kuning Jurumiyah. Namun, Saya tidak menyerah!, Saya mencoba dan mencoba kembali, dan pada akhirnya tidak menyangka Saya mampu menghafal dan menalar Kitab Kuning Jurumiyah tercepat dan pertama.
Alhamdulillah, Saya pun diberikan sebuah hadiah oleh Guru, yang mengajar kelas Saya yaitu Kitab Kuning Alfiyah Ibnu Malik tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun. Saya sangat bersyukur sekali , disaat para Santri yang lain membeli Kitab Kuning setiap kenaikan kelas. Saya tidak, karena hampir selalu diberikan hadiah Kitab Kuning sebagai Santri berprestasi. Namun, disetiap proses perjalanan, Allah selalu memberikan kenikmatan apapun itu, Saat kebahagiaan datang, Allah ingin kita bersyukur. Saat, kesedihan menghampiri, Allah ingin kita bersabar dan mendekatkan diri kepadaNya.
Tepat saat Saya kelas 1 SMA dan memasukin II Tsanawi atau disebut dengan kelas Alfiyah di Pondok Pesantren. Allah memberikan kenikmatan kepada Saya, saat Saya sedang semangat sekali belajar. Ketika itu, saya mengalami sakit keras, suhu tubuh Saya mencapai 40 derajat celcius. Mengigil dan panas, sehingga teman teman Santriwati memberikan sendok yang disimpan di bibir Saya, agar tidak melukai area bibir. Bahkan, saat teman teman Santriwati yang satu kamar dengan Saya membantu memberikan pijatan, agar rileks. Namun, entah kenapa Saya tidak merasakan pijatan itu, kaku dan dingin.
Sampai, mereka bilang “ kaki Teteh dingin”. Saat itu, mata Saya pun tidak mampu untuk terbuka. Hanya berpasrah diri pada Allah, dan sempat berfikir “apabila kematian saat ini tiba didepan mata. Maka, matikanlah aku dalam keadaan syahid Ya Allah, Karena sedang menuntut ilmu di Pondok Pesantren”. Sebelum, sakit Saya parah, Saya berpesan kepada Wakil Ketua Kamar waktu itu bernama Naila Salsabila Azzahra (kebetulan saat itu Saya diberikan amanah untuk menjadi Ketua Kamar) “Naila kalau sudah pulang mengaji di Masjid. Tolong, sampaikan ke teman – teman satu kamar kita untuk meminta kesediaannya membaca surat Al – Waqi’ah, surat Al – Mulk, surat Yasin, surat Al – Kahfi, dan surat Ar – Rahman untuk Saya.” Naila pun mengangguk.
Setelah mereka pulang mengaji di Masjid, Saya pun langsung dibacakan surat – surat tersebut. Sambil ada beberapa teman – teman satu kamar Saya menangis melihat keadaan Saya. Bahkan, Kakak Sepupu Saya yang bernama Nur Muharomatul Arofah menyampaikan “Manda kita hubungi kedua orang tua saja ya (sambil berkaca – kaca)”. Saya menyampaikan berbicara terbata – bata “Jangan Teh, nanti menjadi beban untuk kedua orang tua, biar aku saja”. Kasih sayang Allah dengan memberikan kita rasa sakit, pasti akan ada waktu sembuh dan akan ada obat penawarnya, janji Allah pasti.
Hari demi hari berlalu, waktu demi waktu bergulir. Akhirnya, Saya diberikan kesembuhan. Namun, ternyata tidak cukup sampai disitu dalam berproses dan belajar menjadi Santriwati saat menuntut ilmu. Saya mengalami penyakit kulit seperti memerah, gatal dan panas. Bahkan, Saya dibantu oleh 2 Sahabat Saya yang bernama Marni Suryani dan Nurwulida. Mereka, senantiasa mencucikan pakaian Saya, belum lagi Saya mengalami darah Istihadhoh (dalam hukum fiqih “darah yang keluar bukan saat diwaktu haid”), yang membuat Saya menjadi lemas dan tidak berdaya, hanya mampu berserah diri saja.
Pada saat itu, bertepatan dengan ujian semester akhir kelas 1 SMA. Saya berusaha memaksakan diri untuk mengerjakan soal – soal ujian di Kamar (Kobong).
Disambil merasakan kepala pening, pusing, tubuh panas dan gatal. Tetapi, tekad Saya bulat, Saya harus mampu menyelesaikan ujian ini hingga akhir. Seiring berjalannya waktu, Saya diberikan kesembuhan oleh Allah SWT dengan ikhtiar yang terus dilakukan. Tepat pada malam hari terakhir (perkumpulan sebelum pulang atau libur) atau disebut dengan Mu’ahdaah.
Pengumuman penghargaan sebagai Siswa dan Santri berprestasi disebutkan satu – persatu. Sebenarnya Saya sudah merasa pesimis saat itu, Karena mengerjakan soal – soal ujian dalam keadaan sakit. Namun, Saya terkejut, saat penghargaan Siswa berprestasi SMA Terpadu Riyadlul Huda Kategori Putri/Santriwati Angkatan 1 dengan juara 3 diberikan kepada Amalia Amanda. Ketika itu, Saya merasa terharu dan tidak percaya dengan segala kemampuan Saya mengerjakan ujian semester akhir membuahkan hasil.
Saya pun diperkenankan untuk kedepan dan diberikan surat keputusan yang ditanda tangani oleh pihak sekolah sebagai Siswa berprestasi. Pada, akhirnya kita hanya perlu percaya atas kemampuan diri sendiri, dengan diiringi ikhtiar yang tekun, ulet, gigih serta optimis dalam menghadapi tantangan dalam mengapai cita – cita dan mimpian. Semoga, tulisan ini menjadi energi positif dan kebermanfaatan, agar terus menumbuhkan nilai – nilai kebaikan bagi para pembaca. Saya selaku penulis memohon maaf apabila masih terdapat tulisan yang kurang baik, semoga kedepannya bisa lebih baik lagi. Terimakasih, SEKIAN.
Komentar
Posting Komentar