Pengembangan Potensi Diri

PENGEMBANGAN POTENSI DIRI DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN PADA KADER PMII (PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA)

Amalia Amanda 
Fakultas Psikologi Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia
Email : amaliaalmuzammil7@gmail.com

ABSTRAK
Pengembangan potensi diri ini merupakan satu kesatuan dalam tubuh Kader PMII yang tidak akan pernah lepas dalam hal keterampilan dimanapun. Keterampilan adalah kemampuan manusia dalam menggunakan pikiran, ide serta kreatifitas, dalam mengubah atau membuat sesuatu menjadi bernilai lebih. Sehingga, sesuatu tersebut memiliki nilai yang lebih bermakna. Ada beberapa faktor dalam meningkatkan keterampilan yaitu aktif mencari cara mengasah keterampilan terutama pada bidang yang diminati, memanfaatkan peluang digital seperti penggunaan media sosial dan teknologi canggih lainnya, Investasi untuk diri sendiri antara lain pelatihan skill, seminar, organisasI, dan komunitas suatu perusahaan, serta mampu menetapkan prioritasnya dengan baik. Hal ini harus mampu dan terbentuk pada Kader PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) dalam meningkatkan keterampilan terutama pada facultatif masing – masing Kader PMII. Agar mampu bersaing pada setiap liding sektor manapun. Kader PMII juga harus mampu mengimplementasikan keterampilan tersebut kepada Para Kader yang lain serta masyarakat umum. Sehingga, Kader PMII mampu menjadi agen of change dan agen social of control dalam mengembangkan potensi diri, serta dapat dirasakan kebermanfaatannya.

Kata Kunci : Keterampilan, Facultatif, Kader PMII, Potensi diri, Pengembangan, Skill.

A. PENDAHULUAN.
       Menurut Gordon (1994 :55) Keterampilan merupakan kemampuan untuk mengoperasikan pekerjaan secara mudah dan cepat, pengertian ini biasanya cenderung pada aktifitas psikomotor. Selain itu, pengertian menurut Nadler (1986 : 73) “Skill merupakan kegiatan yang memerlukan praktek atau dapat diartikan sebagai implikasi dari aktifitas’, Dunnette (1976 : 33) mendefinikan Skill sebagai kapasitas yang membutuhkan untuk melaksanakan beberapa tugas yang merupakan pengembangan dari hasil training dan pengalaman yang didapat. Menurut Amirullah dan Budiyono (2014:21) menjelaskan bahwa “Skill atau keterampilan adalah suatu kemampuan untuk menterjemahkan pengetahuan ke dalam praktik sehingga tercapai tujuan yang diinginkan”. Pada dasarnya keterampilan merupakan hal yang bersifat individual, setiap individu akan memiliki tingkat keterampilan yang berbeda tergantung pada kemampuan dan pengalamannya. 
       Selain itu, keterampilan setiap Kader PMII pun harus terus diasah dan dikembangkan melalui program pelatihan, seminar, sekolah pada bidang terentu ataupun bimbingan. Pelatihan dan sebagainya harus didukung oleh kemampuan dasar yang sudah dimiliki Kader PMII tersebut dalam dirinya. Kemampuan dasar ini dapat menghasilkan sesuatu yang lebih bermanfaat dan bernilai tambah bagi dirinya maupun bagi orang lain. Apabila dikombinasikan dengan bimbingan ataupun pelatihan.
       Dari penjelasan diatas keterampilan dapat diartikan merupakan kemampuan dasar yang melekat dalam diri manusia, yang kemudian dilatih, diasah, serta dikembangkan secara terus menerus dan berkelanjutan guna menjadikan kemampuan seseorang menjadi potensial, Sehingga, kemudian seseorang tersebut menjadi ahli serta profesional di bidang tertentu.
       Maka, dari itu setiap Kader PMII harus memiliki keterampilan terutama pada facultaif masing – masing, secara konsisten dan bertahap. Dimulai dari mengikuti organisasi internal kampus yang bersifat struktural, mengikuti pelatihan khusus, seminar, training, volunteer dan sebagainya. 

B. PEMBAHASAN.
       Dalam menghadapi tantangan zaman seperti bersaing dalam dunia pekerjaan, supaya diposisikan pada job yang bergengsi, ataupun bekerja pada perusahaan start up hingga internasional. Kader PMII harus mampu menganalisis pengembangan potensi dari keterampilan yang sudah dimilikinya. Disini kita analisis terlebih dahul bagaimana muatan dan cakupan Peningkatan Keterampilan Kader PMII ketika menggunakan analisis SWOT. Menurut Freddy (2013), analisis SWOT adalah analisa yang berbasis pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (Strength), dan peluang (Opportunity), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (Weakness) dan ancaman (Threats).
       Kekuatan (Strength) Keterampilan Kader PMII memiliki pengaruh yang sangat besar seperti mampu mengembangkan public speaking, mampu beradaptasi dengan lingkungan baru, leadership yang mahir, kerjasama antar tim yang baik, pengelolaan administrasi (pengarsipan,dll), kecepatan dalam membaca buku, mampu dalam pemetaan arah gerak organisasi dan politik, mempunyai nalar kritis yang kuat dan sebagainya.
       Peluang (Opportunity) Keterampilan Kader PMII, mampu diterima oleh masyarakat luas, mampu melakukan jejaring dengan pihak Instansi, Lembaga, OKP, Ormas, dsbnya, mampu mengadvokasi kebijakan publik yang memang dirasa kurang begitu relevan pada realita masyarakat, mampu melakukan negosiasi dan lobbying dengan stakeholder manapun, mampu menggiring massa dibasis structural Kader PMII dalam menyuarakan hak – hak dan kewajiban ketika terjadi penyimpangan kekuasaan ataupun aturan.
       Kelemahan (Weakness) yang ada pada Keterampilan Kader PMII itu sendiri adalah terdapat pada faktor Kader PMII itu sendiri, seperti hal kecil bangun dipagi hari, kurangnya time management, kurangnya kesadaran Kader PMII baik satu sama lain maupun lingkungan masyarakat sosial, serta terlalu nyaman dengan kepentingan individu ataupun kelompoknya sendiri (comfort zone). 
       Ancaman (Threats) bagi Keterampilan Kader PMII adalah tidak mampu bersaing dengan orang – orang yang ahli di bidangnya (professional), terlalu fokus pada kegiatan struktur (diskusi,demo,dll), kurang minat belajar bahasa asing, dan facultatif hanya sebatas formalitas dalam menggugurkan kewajiban kepada kedua orang tua.
       Setelah kita mengetahui analisis SWOT terhadap Keterampilan Kader PMII, kita akan dapat memaksimalkan kekuatan dan peluang sebagai Kader PMII dalam meningkatkan keterampilan sebagai pengembangan potensi diri. Agar mampu menjadi jangka panjang kedepannya seperti kaderisasi. Tidak hanya itu, Kader PMII pun perlu konsisten secara bersamaan agar dapat meminimalisir kelemahan dan ancaman untuk mengikis tantangan zaman yang sangat cepat. 
       Kader PMII juga harus mampu masuk kepada facultatif masing – masing secara mumpuni bahkan tingkat ahli, seperti ekonomi, pendidikan, kesehatan, hukum, kedokteran, sosial, politik, administrasi publik, psikologi, sosiologi, pemerintahan,dsbnya. Agar, mampu memudahkan pemetaan gerak dan peran Kader PMII. Ketika, sudah difokuskan masing – masing. 
       Pada akhirnya, kemaslahatan bersama tidak dapat mampu dilihat dari bagaimana jenis kelaminnya, darimana kasta tertingginya, seberapa tinggi kecerdasannya. Namun, kemaslahatan bersama dilihat daripada manusia itu sendiri, seberapa mampu untuk mempunyai kemauan yang tinggi, giat belajar, hingga dikatakan mampu menjungjung manusia “Ulul Albab” atau seseorang yang haus akan ilmu pengetahuan. 

C. KESIMPULAN.
       Berdasarkan pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwa keterampilan Kader PMII terhadap pengembangan potensi diri meliputi beberapa faktor yaitu aktif mencari cara mengasah keterampilan terutama pada bidang yang diminati, memanfaatkan peluang digital seperti penggunaan media sosial dan teknologi canggih lainnya, Investasi untuk diri sendiri antara lain pelatihan skill, seminar, organisasI, dan komunitas suatu perusahaan, serta mampu menetapkan prioritasnya dengan baik. 
       Keterampilan dapat diartikan merupakan kemampuan dasar yang melekat dalam diri manusia, yang kemudian dilatih, diasah, serta dikembangkan secara terus menerus dan berkelanjutan guna menjadikan kemampuan seseorang menjadi potensial, Sehingga, kemudian seseorang tersebut menjadi ahli serta profesional di bidang tertentu. 
       Kader PMII juga harus mampu masuk kepada facultatif masing – masing secara mumpuni bahkan tingkat ahli, seperti ekonomi, pendidikan, kesehatan, hukum, kedokteran, sosial, politik, administrasi publik, psikologi, sosiologi, pemerintahan,dsbnya. Tidak hanya itu, Kader PMII pun giat dalam mengikuti sekolah non formal yang diadakan tiap – tiap basis strukturalnya seperti sekolah advokasi, sekolah kepemimpinan, sekolah keperempuanan, sekolah politik, sekolah aswaja, dan masih banyak lagi. 
       Agar, mampu memudahkan pemetaan gerak dan peran Kader PMII. Ketika, sudah difokuskan masing – masing. Ini dapat memudahkan kaderisasi juga dalam melihat potensi, minat dan bakat Para Kader baru ataupun Maba (Mahasiswa Baru.Agar mampu menjungjung manusia “Ulul Albab” dan memiliki keinginan dalam mengimplementasikannya.

D. SARAN.
Adapun beberapa cara pengembangan potensi dalam meningkatkan keterampilan Kader PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), yaitu :
Belajar profesi secara facultatif yang mumpuni hingga tingkat ahli;
Mengikuti pendidikan nonformal seperti sekolah kepemimpinan, sekolah politik, sekolah advokasi, dsbnya;
Memiliki keinginan dalam belajar bahasa asing; dan
Tidak berfokus dalam kegiatan struktur secara jangka panjang;
Mengimplementasikan secara konsisten dengan mampu menganalisis minat & bakat Para Kader baru atau Maba (Mahasiswa Baru) masing - masing.

E. REFERENSI.
Eliya, M. (2021). Peningkatan Keterampilan Membaca Menggunakan Media Buku Cerita Bergambar Pada Siswa Kelas II SDN 2 Jelapat Tahun Pelajaran 2018/2019. e-Jurnal Mitra Pendidikan, 5(7), 517-526.

Sulistyowati, E. (2019). Meningkatkan keterampilan dan hasil belajar bahasa indonesia tentang menulis surat resmi melalui pengajaran dan pembelajaran kontekstual (ctl) pada siswa kelas VI SD 6 Getassrabi. INOPENDAS: Jurnal Ilmiah Kependidikan , 2 (1).

https://stekom.ac.id/artikel/cara-meningkatkan-keterampilan-kerja







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Amalia Amanda & Pondok Pesantren

PERAN DAN GERAKAN KOPRI